Tetesan Pena Terakhirku di Senja

Tiap sore ,taman ini begitu ramai. Suara lantang para kaki lima berbaur tawa riang seorang anak saat sang Ibu membelikan balon berwarna merah -yang ditangan kanannya juga memegang aromanis. Dibalik riangnya seorang anak kecil bersama ibunya, ada seorang pria yang memberikan sureprise seikat mawar kepada sang kekasih yang semenjak tadi tampak bosan menunggu kedatangannya dan didepanku melintas gerombolan anak muda berpakain putih abu – abu yang tertawa lepas melihat temannya tersungkur di tanah.

Ramai sekali sore ini -tapi tak seramai hatiku. Semua terasa datar . Tak ada masalah. Tak ada kecewa. Tapi hati tak merasa bahagia.

Di Taman ini lagi – lagi aku menorehkan pena. Mencoba melukis dengan sebuah kata. Berulang dan berulang -ku lakukan hal yang sama. Tiap sore, sepulang kuliah. Menghabiskan soreku dibangku ini. Bangku yang hanya aku saja yang menduduki. Bangku ini juga tau tiap kali aku datang, dia tak mengijinkan orang lain menempati. Selalu saja ada orang yang beranjak pergi sebelum aku meminta izin duduk disandingnya.

” kenapa kau selalu biarkan aku sendiri disini ” Sambil ku elus bangku taman yang lagi – lagi membiarkan aku termangu.

ku ketok-ketokan pena yang menghambat jalannya imajinasiku.

” kok macet ! padahal baru beli lusa “

ku ketok – ketokan lagi , berharap tintanya mau keluar -tetapi tetap tak menorehkan sebuah coretan. Lalu ku buka tutupnya -ternyata memang benar sudah habis. Sebenarnya aku paling benci membeli boxy. Cepat habis.

Aku lemparkan ke tong sampah. dan mleset. Ku bungkukkan badanku disamping tong untuk memungut pena kosong dan membuangnya ke sampah.

Saat kubalikkan badan. Pria tinggi besar ada dihadapanku. Sosoknya membuat otakku memutar cerita masa lalu. dan berhenti memutar ketika otakku menerjemahkan “bukan dia”.

Mataku sayu kembali, seperti bunga yang ingin mekar tapi tak jadi mekar karena matahari yang terus saja cemberut.

“ini .. aku rasa kamu membutuhkan ini..” pria itu memberikan sebuah pena yang aku butuhkan sore ini.

” tidak . terima kasih” aku mengulum senyum dan beranjak pergi.

 ” Apa salahnya kau menerima pemberianku ini ” suara pria itu -kecewa dengan sikapku.

Aku membalikkan badan kearahnya dan mengambil pena yang masih ada di uluran tangannya.

” terima kasih ” ku berikan senyum balas kekecewaannya itu. dan dia juga membalas senyumku.

” Apa yang kau tulis selama ini ” tanyanya .

Dalam hati aku menggumam , ” ternyata selama ini dia memperhatikanku ” .

” oh .. tidak, aku hanya berehat melepas penat sepulang kuliah ” jawabku tak nyambung.

” lalu kenapa lenganmu selalu jadi penyangga notesmu ? ” tanyanya lagi yang masih belum menemukan jawaban dariku.

Hanya aku balas dengan senyum dan mengajaknya untuk duduk dibangku taman.

Sore ini , bukan hanya bangku taman saja yang menjadi temanku , tapi pria asing itu telah membunuh kekelamanku disaat menunggu senja.

Sore – soreku kini menjadi senja indah yang selalu ditunggu pecinta muda. Kuhabiskan keluhku ditelinganya. Seseorang yang meramaikan hatiku -setelah Taman yang selalu meramaikan ragaku. Kaulah kekasihku….

Di sore yang ke 10 kali atau bahkan ke 100 kalinya. entahlah aku tak pernah menghitung. Terlalu seringnya aku berkunjung disini.

Ku sempatkan  membeli pena yang sudah hampir habis di Toko dekat komplek dan tak jauh dari taman. Membiarkan dia tersenyum kecut setelah tau pena baruku. yang semenjak perkenalan dia tidak pernah absen memprediksi isi penaku dan selalu membawakan yang baru.

Aku dorong pintu kaca toko . mencari – cari letak pena yang sebenarnya tak usah mencaripun  aku selalu dapat. Tapi kali ini , raib kemana semua koleksi pena di Toko.

Pojok atas samping map. Aku ingat betul letaknya. Lalu aku cari rak yang berisi map. dan kutemukan. Hanya map. Kotak pena kosong semua.

” apa-apaan sih ini , masa’ tak ada satupun pena “

Raut kecewa  menjamah mukaku. Aku langkahkan kaki meninggalkan toko sial itu.

” kok balik mbak ? ” tanya penjaga toko yang terheran. biasanya aku keluar dengan membawa bungkusan notes dan pena.

” tak ada yang kucari ” jawabku singkat tanpa memandang wajahnya.

Tiba – tiba dari arah belakang , tanganku seperti ada yang menyeret. Sentak aku berteriak “kurang ajar sekali kamu ” ku kibaskan  tangannya dan berbalik ke arah petugas itu untuk memberi peringatan. Kali ini aku naik pitam.

Seluruh pengunjung toko terbengong melihat sikapku. Pandanganku masih ditahan para pengunjung. Tak melihat ternyata disamping penjaga toko itu adalh kekasihku.

” mbak cari ini ” suaranya merebut pandanganku dari sitaan para pengunjung.

” sayang.. ” aku terkejut melihat sosoknya.

“maaf . pena disini sudah habis. sebenarnya aku tak ingin merepotkanmu” suara sesal membuat kepalaku tertunduk malu.

” ayo ke  Taman lagi ” ajaknya sambil memegang leherku dengan kedua tangannya. Tatapanku membuat dia merasa bersalah dan mengusap – usap keningku.

Dia genggam tanganku menuju ke taman. di tengah perjalanan .

” ini buka “

Aku kaget melihat tangannya yang tiba – tiba menyodorkan kotak sepatu merk ternama laki – laki.

” buat siapa ? “

” buat kamu “

Aku menghentikan langkah dan membuka di tengah perjalanan.

” Astaga ” Aku terkejut melihat isi kotak sepatu itu ternyata pena yang diborongnya di Toko yang aku anggap sila itu.

” ini kah yang kamu cari ? Happy birthday sayang ” Ucapnya sambil mencium keningku.

Kini aku yang tersenyum kecut. Tapi kau heran dengan lelaki ini. Kita tidak begitu mengenal dalam. Hubungan ini pun masih berjalan 1 bulan saja, tapi dia tau kapan kau ulang tahun.

” Tau darimana ? ” tanyaku kaget.

” insting kekasih itu lebih kuat ” jawabnya dengan nada menggoda.

Aku tersenyum bahagia dan memeluknya dalam keraguan.

Bukan hanya sore yang menjadikan aku hidup. Tapi hari – hariku lebih hidup akan perhatiannya. Kini aku lebih tidak sabar lagi untuk pulang kuliah , agar bertemu dan bersandar di pundaknya.

Aku bergegas mandi dan berdandan secantik mungkin sebelum bertemu dengannya.

Ku kayuh sepeda onthel menuju taman. Hari ini aku ingin mengajak dia berjalan – jalan mengelilingi komplek dan taman di atas sepeda tua ini , yang telah lama aku anggurin di gudang.

Sambil mencoret – coret kembali di atas kertas untuk membunuh waktu akan kehadirannya. 4 bait “senyummu dan senja” . selesai aku buat.

Ku lihat matahari di awan , semakin meredup . Tapi dia tak kunjung datang.

Seorang ibu yang mengajak anaknya untuk pulang . dan para kaki lima yang sudah menutup gerobaknya. Membuat aku semakin resah.

**

Tidak hanya kemarin saja dia membiarkan aku sendiri di bangku ini, tapi 1 minggu sudah , dia tak nampak lagi di Taman. “Dimana dia !!!” teriakku dalam hati.

Saat aku selesai membuat puisi yang tepat ke 30 kali dan menutup notes kecilku. Tak sadar di samping aku duduk, ditinggalkannya sepucuk surat dan sebuah pena oleh orang yang tadi meminta izin untuk duduk dibangku taman . Aku perkenankan -tanpa menoleh kearahnya -karena kau tau ,bukan dia. yang baru kali ini ada orang duduk disandingku , kecuali dia. Dia yang telah pergi. Dia yang seperti pena -yang mampu menorehkan makna hidup , menjadi bukti cerita kisah indah . Tetapi setelah pena kehabisan isi , dia menghentikan torehan – torehan indah itu.

Aku buka surat yang tergeletak disampingku.

” Aku hanya ingin membalas ketulusanmu, Kekasihku. Kau kekasih lamaku yang pernah aku sakiti. Sakit yang aku derita ini membuat kau lupa akan diriku. Atau kau bahkan memang melupakanku ,atas kekejianku terhadap hatimu. Fisikku yang masih tetap tinggi tegap, tetapi tidak pada rautku, rautku begitu lesu karna sakit yang aku idap ini -tak perlu kau tau apa sakitku, yang pasti sakit ini membuat aku sadar akan hatimu yang tulus. Aku pergi bukan berarti aku penjahat yang mengambil kebahagiaan darimu. Tapi aku meninggalkanmu untuk pergi berobat keluar negeri. Hanya ada 2 pilihan, aku tetap tinggal di luar negeri untuk terus berobat , atau aku kembali ke Indonesia dalam bentuk raga beku. Hanya ini yang aku titipkan. Sebuah pena. yang aku rasa , kau akan gunakan untuk menceritakan kepergianku.Tulislah sayang dimana aku mencintaimu hingga menyakitimu dan ceritakanlah sayang dimana soremu seperti menunggu senja -bahagia. Hingga aku menjadi malam dimana senja menggantikan. dan dititik terakhir pena yang aku berikan ini adalah kepergianku “

Aku lempar kesal surat ini ke sampah. Tak masuk lagi ! justru membuat sampah terguling. Bergegas aku memungutnya. Saat selesai dan ku balikkan badan. Sesosok pria berdiri membawa penaku yang terjatuh . Dia menatapku. Aku berhenti menatap . Meninggalkan sosok pria itu dengan menyambar pena yang ada ditangannya. Ku kayuh sepeda menuju komplek rumah disambut senja dan berlinangkan air mata.

By : Putri Chandra Kirana

on http://putri-ck.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s