KOMUNIKASI KELOMPOK DAN KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

  •   KOMUNIKASI KELOMPOK

Komunikasi kelompok ialah komunikasi antara seseorang dengan sekelompok orang dalam situasi tatap muka (Onong,2001:126). Sedangkan menurut Michael Burgoon dan Michael Ruffner , komunikasi kelompok adalah interaksi tatap muka dari 3 individu / lebih dengan tujuan berbagi informasi , pemeliharaan diri , pemecahan masalah ,dan yang anggota – anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota kelompok lainnya dengan tepat.

Komunikasi kelompok memiliki karakteristik yang unik, dimana kepribadian seorang individu bisa berubah bila ia menjadi bagian dari kelompoknya. Oleh karena itu , dalam komunikasi kelompok dibedakan antara komunikasi kelompok kecil dan komunikasi kelompok besar.

  1. Komunikasi kelompok kecil (small group communication)

Komunikasi kelompok kecil ialah komunikasi yang ditujukan kepada komunikan dengan proses berlangsungnya dialogis. Dalam komunikasi kelompok kecil ini ,komunikan menunjukkan pesannya kepada benak atau pikiran komunikan. Sedangkan ciri kedua ialah bahwa prosesnya berlangsung secara dialogis ,tidak linear, melainkan sirkular.

Batasan lain mengenai komunikasi kelompok dikemukakan oleh Ronald  Adler dan George Rodman dalam bukunya Understanding Human Communication. Mereka mengatakan bahwa kelompok atau group merupakan  sekumpulan kecil orang yang saling berinteraksi, biasanya tatap muka dalam waktu yang lama guna mencapai tujuan tertentu (a small collection of people who interct with each other, usually face to face, over time order to reach goals).

Ada empat elemen yang muncul dari definisi yang dikemukakan oleh Adler dan    Rodman tersebut, yaitu :

  1. Elemen pertama adalah interaksi dalam komunikasi kelompok merupakan faktor yang penting, karena melalui interaksi inilah, kita dapat melihat perbedaan antara kelompok dengan istilah yang disebut dengan coact. Coact adalah sekumpulan orang yang secara serentak terkait dalam aktivitas yang sama namun tanpa komunikasi satu sama lain. Misalnya, mahasiswa yang hanya secara pasif mendengarkan suatu perkuliahan, secara teknis belum dapat disebut sebagai kelompok. Mereka dapat dikatakan sebagai kelompok apabila sudah mulai mempertukarkan pesan dengan dosen atau rekan mahasiswa yang lain.
  2. Elemen yang kedua adalah waktu. Sekumpulan orang yang berinteraksi untuk jangka waktu yang singkat, tidak dapat digolongkan sebagai kelompok. Kelompok mempersyaratkan interaksi dalam jangka waktu yang panjang, karena dengan interaksi ini akan dimiliki karakteristik atau ciri yang tidak dipunyai oleh kumpulan yang bersifat sementara.
  3. Elemen yang ketiga adalah ukuran atau jumlah partisipan dalam komunikasi kelompok. Tidak ada ukuran yang pasti mengenai jumlah anggota dalam suatu kelompok. Ada yang memberi batas 3-8 orang, 3-15 orang dan 3-20 orang. Untuk mengatasi perbedaan jumlah anggota tersebut, muncul konsep yang dikenal dengan smallness, yaitu kemampuan setiap anggota kelompk untuk dapat mengenal dan mempengaruhi terhadap anggota kelompok lainnya. Dengan smallness ini, kuantitas tidak dipersoalkan sepanjang setiap anggota mampu mengenal dan mempengaruhi pada anggota lain atau setiap anggota mampu melihat dan mendengar anggota yang lain/seperti yang dikemukakan dalam definisi pertama.
  4. Elemen terakhir adalah tujuan yang mengandung pengertian bahwa keanggotaan dalam suatu kelompok akan membantu individu yang menjadi anggota kelompok tersebut dapat mewujudkan satu atau lebih tujuannya.

B. Komunikasi kelompok besar (large group communication)

Kelompok besar (large group) adalah kelompok komunikan yang karena jumlahnya banyak, dalam suatu situasi komunikasi hampir tidak terdapat kesempatan untuk memberikan tanggapan secara verbal. Dengan lain perkataan, dalam komunikasi dengan kelompok besar, kecil sekali kemungkinannya bagi  komunikator untuk berdialog dengan komunikan.

Dalam komunikasi internal suatu jawatan atau perusahaan jarang sekali terjadi komunikasi kelompok besar kecuali dalam upacara bendera yang sering dipergunakan oleh seorang kepala atau pemimpin untuk memberikan informasi yang sifatnya umum, yang berkaitan dengan kepentingan seluruh karyawan.

  •   KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Definisi dari beberapa ahli , diantaranya :

  • Tubbs, Moss:1996).

Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini). Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi

  • Lustig and Koester’s (2003: 49-51),

Komunikasi antar budaya adalah sebuah proses simbolik yang mana orang dari dari budaya – budaya yang berbeda menciptakan pertukaran arti – arti. Hal tersebut terjadi ketika perbedaan – perbedaan budaya yang besar dan penting menciptakan interpretasi dan harapan – harapan yang tidak sama mengenai bagaimana berkomunikasi secara baik.

  • Jandt (2004: 4)

Komunikasi antar budaya tidak hanya komunkasi antar individu tapi juga di antara kelompok – kelompok dengan identifikasi budaya yang tersebar. Ringkasnya, komunikasi antar budaya menjelaskan interaksi antar individu dan kelompok – kelompok yang memiliki persepsi yang berbeda dalam perilaku komunikasi dan perbedaan dalam interpretasi.

  • Samovar & Porter 1997

Studi mengenai komunikasi antar budaya menguji apa yang terjadi dalam kontak dan interaksi antar budaya ketika proses komunikasi mencakup orang – orang yang secara budaya tersebar.

  • Gudykunst

Komunikasi antarbudaya merupakan “tipe” dari komunikasi antarkelompok, yaitu komunikasi antara para anggota dari kelompok sosial yang berbeda.

Sebuah permasalahan yang sama dalam komunikasi antar budaya muncul “ketika orang – orang yang menjelaskan dirinya sebagai kelompok yang berbangsa dan beretnis sama tidak mau melakukan pertukaran ide – ide mengenai bagaimana menunjukkan identitas mereka dan tidak menyetujui tentang norma – norma untuk interaksi” (Collier 1997: 43).

Untuk mencapai komunikasi antar budaya yang efektif, individu seharusnya mengembangkan kompetensi antar budaya; merujuk pada keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai komunikasi antar budaya yang efektif (Jandt ,1998, 2004)

McLuhan (dalam Infante et.al, 1990 : 371) menyatakan bahwa dunia saat ini telah menjadi “Global Village” yang mana kita mengetahui orang dan peristiwa yang terjadi di negara lain hampir sama seperti layaknya seorang warga negara dalam sebuah desa kecil yang menjadi tetangga negara – negara lainnya. Perubahan sosial adalah hal lain yang berpengaruh dalam komunikasi antar budaya adalah dengan makin banyaknya perayaan – perayaaan budaya sebuah etnis dalam sebuah negara. Perbedaan budaya dalam sebuah negara menciptakan keanekaragaman pengalaman, nilai, dan cara memandang dunia. Keanekaragaman tersebut menciptakan pola – pola komunikasi yang sama di antara anggota – anggota yang memiliki latar belakang sama dan mempengaruhi komunikasi di antara anggota – anggota daerah dan etnis yang berbeda.

Tujuan Komunikasi Antar Budaya adalah :

  • Memahami perbedaan budaya yang mempengaruhi praktik komunikasi
  • Mengkomunikasi antar orang yang berbeda budaya
  • Mengidentifikasikan kesulitan – kesulitan yang muncul dalam komunikasi
  • Membantu mengatasi masalah komunikasiyang disebabkan oleh perbedaan  budaya
  • Meningkatan ketrampilan verbal dan non verbal dalam komunikasi
  • Menjadikan kita mampu berkomunikasi secara efektif

Ada beberapa alasan mengapa perlunya komunikasi antar budaya, antara lain:

a)      Membuka diri memperluas pergaulan

b)      Meningkatkan kesadaran diri

c)      Etika/etis

d)     Mendorong perdamaian dan meredam konflik

e)      Demografis

f)       Ekonomi

g)      Menghadapi teknologi komunikasi

h)      Menghadapi era globalisasi.

Hakekat Komunikasi Antarbudaya

  • Enkulturasi
    Enkulturasi mengacu pada proses dengan mana kultur ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kita mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen. Orang tua, kelompok, teman, sekolah, lembaga ke-agamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama dibidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka.
  • Akulturasi
    Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain. Misalnya, bila sekelompok imigran emudian berdiam di AS (kultur tuan rumah), kultur mereka sendiri akan dipengaruhi oleh kultur tuan rumah ini. Berangsur-angsur, nilai-nilai, cara berperilaku, serta kepercayaan dari kultur tuan rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama, kultur tuan rumah pun ikut berubah.

Fungsi-Fungsi Komunikasi Antarbudaya

Fungsi Pribadi
Fungsi pribadi adalah fungsi-fungsi komuniasi yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang bersumber dari seorang individu.

  • Menyatakan Identitas Sosial
    Dalam proses komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang digunakan untuk menyatakan identitas sosial perlikau itudinyatakan melalui tindakan berbahasa baik secara verbal dan nonverbal. Dari perilaku berbahasa itulah dapat diketahui identitas diri maupun sosial, misalnya dapat diketahui asal-usul suku bangsa, agama, , maupun tingkat pendidikan seseorang.
  • Menyatakan Integrasi Sosial
    Inti konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antar pribadi, antar kelompok namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiapunsur. Perlu dipahami bahwa salah satu tujuan komunikasi adalah memberikan makna yang sama atas pesan yang dibagi antara komunikator dan komunikan. Dalam kasus komunikasi antarbudaya yang melibatkan perbedaan budaya antar komunikator dengan komunikan, maka integrasi sosial merupakan tujuan utama komunikasi. Dan prinsip utama dalam proses pertukaran pesan komunikasi antarbudaya adalah:

sayamemperlakukan anda sebagaimana kebudayaan anda memperlakukan anda dan bukan sebagaimana yang saya kehendaki. Dengan demikian komunikator dan komunikan dapat meningkatkan integrasi sosial atas relasi mereka.

  • Menambah Pengetahuan
    Seringkali komunikasi antarpribadi maupun antarbudaya menambah pengetahuan
    bersama, saling mempelajari kebudayaan masing-masing. Melepaskan Diri atau Jalan KeluarKadang-kadang kita berkomunikasi dengan orang lain untuk melepaskan diri atau mencari jalan keluar atas masalah yang sedang kita hadapi. Pilihan komunikasi seperti itu kita namakan komunikasi yang berfungsi menciptakan hubungan yang komplementer dan hubungan yang simetris.

Fungsi Sosial

  • Pengawasan
    Funsi sosial yang pertama adalah pengawasan. Praktek komunikasi antarbudaya di antara komunikator dan komunikan yang berbada kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan “perkembangan” tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa yang menyebarlusakan secara rutin perkembangan peristiwa yang terjadi disekitar kita meskipun peristiwa itu terjadi dalam sebuah konteks kebudayaan yang berbeda.
  • Menjembatani
    Dalam proses komunikasi antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama. Fungsi ini dijalankan pula oleh pelbagai konteks komunikasi termasuk komunikasi.
  • Sosialisasi Nilai
    Fungsi sosialisasi merupakan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.
  • Menghibur
    Fungsi menghibur juga sering tampil dalam proses komunikasi antarbudaya. Misalnya menonton tarian hula-hula dan “Hawaian” di taman kota yang terletak di depan Honolulu Zaw, Honolulu hawai. Hiburan tersebut termasuk dalam kategori hiburan antarbudaya.

 

Jenis-Jenis Hambatan Komunikasi Antar Budaya.

Hambatan komunikasi (communication barrier) dalam komunikasi antar  budaya (intercultural communication) mempunyai bentuk seperti sebuah gunung   es yang terbenam di dalam air.Dimana hambatan komunikasi yang ada terbagi dua menjadi yang diatas air (above waterline) dan dibawah air (below waterline).

Faktor-faktor hambatan komunikasi antar budaya yang berada dibawah air (below waterline) adalah faktor-faktor yang membentuk perilaku atau sikap seseorang, hambatan semacam ini cukup sulit untuk dilihat atau diperhatikan.  Jenis-jenis hambatan semacam ini adalah persepsi (perceptions), norma (norms), stereotip (stereotypes), filosofi bisnis (business philosophy), aturan (rules),jaringan (networks), nilai (values), dan grup cabang (subcultures group).

Sedangkan terdapat 9 (sembilan) jenis hambatan komunikasi antar budaya yang berada diatas air (above waterline).Hambatan komunikasi semacam ini lebih  mudah untuk dilihat karena hambatan-hambatan ini banyak yang berbentuk fisik.

Hambatan-hambatan tersebut adalah (Chaney & Martin, 2004, p. 11 – 12):

1.  Fisik (Physical).

Hambatan komunikasi semacam ini berasal dari hambatan waktu,    lingkungan, kebutuhan diri, dan juga media fisik.

2.  Budaya (Cultural)

Hambatan ini berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu dengan yang lainnya.

3.  Persepsi (Perceptual)

Jenis hambatan ini muncul dikarenakan setiap orang memiliki  persepsi yang berbeda-beda mengenai suatu hal. Sehingga untuk    mengartikan sesuatu setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang    berbeda-beda.

4.  Motivasi (Motivational)

Hambatan semacam ini berkaitan dengan tingkat motivasi dari  pendengar, maksudnya adalah apakah pendengar yang menerima pesan ingin menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tersebut sedang malas dan tidak punya motivasi sehingga dapat menjadi hambatan komunikasi.

5.  Pengalaman (Experiantial)

Experiental adalah jenis hambatan yang terjadi karena setiap individu tidak memiliki pengalaman hidup yang sama sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan juga konsep yang berbeda-beda dalam       melihat sesuatu.

6.  Emosi (Emotional)

Hal ini berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari     pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan       komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.

7.  Bahasa (Linguistic)

Hambatan komunikasi yang berikut ini terjadi apabila pengirim  pesan (sender) dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa yang berbeda atau penggunaan kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan.

8.  Nonverbal

Hambatan nonverbal adalah hambatan komunikasi yang tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi. Contohnya adalah wajah marah yang dibuat oleh penerima pesan            (receiver) ketika pengirim pesan (sender) melakukan komunikasi. Wajah  marah yang dibuat tersebut dapat menjadi penghambat komunikasi karena mungkin saja pengirim pesan akan merasa tidak maksimal atau       takut    untuk mengirimkan pesan kepada penerima pesan.

9.  Kompetisi (Competition)

Hambatan semacam ini muncul apabila penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain sambil mendengarkan. Contohnya adalah menerima telepon selular sambil menyetir, karena melakukan 2 (dua)  kegiatan sekaligus maka penerima pesan tidak akan mendengarkan  pesan yang disampaikan melalui telepon selularnya secara maksimal.

STUDI KASUS

 

 

Pada suatu hari saudara saya (orang jawa) berselisih dengan seorang supir yang berasal dari daerah tapanuli (batak). Masalahnya mungkin sudah di duga yaitu,senggol menyenggol kendaraan di tengah kemacetan,Karena tidak ada polisi dan kedua belah pihak tetap pada pendiriannya ,mereka sepakat menuju kantor polisi terdekat.Karena si supir berbicara meledak-ledak,maka di tegurlah sang supir oleh pak polisi agr berbicara lebih santun dan tenang Namanya pak supir yang sedang naik pitim, sekonyong-konyong ia berbicara:”saya orang batak. Saya tidak bisa bicara halus seperti dia (sambil menunjuk ke arah saudara saya). Kami orang batak kalau berbicara lantang dan terus terang tetapi jujur,tidak seperti orang jawa bicara tidak jujur,berputar-putar dan berbelit-belit”. Untuk orang batak yang baik adalah bicara langsung,terbuka dan terus terang karena di situ nilai kejujuran dan keterbukaan di junjung. Namun bagi orang jawa hal itu tidak sopan,kalau berbicara harus santun.Kebaikan buat saudara saya (sopan santun,bicara halus dengan tutur kata yang baik) dianggap keburukan bagi si supir karena dianggap berputar-putar, berbelit-belit dan tidak jujur. Begitu juga sebaliknya, ini adalah penggambaran yang sangat jelas bagaimana budaya jawa dan budaya betak berpengaruh pada proses komunikasi mereka. Dengan budaya yang berbeda, hal ini akan jelas berpengaruh pada cara mereka berkomunikasi.

Sumber :

 

Uchjana Effendy, Onong. 2001. Ilmu Komunikasi. Bandung : Rosda.

http://www.anneahira.com/teori-komunikasi-kelompok.htm

http://www.bintan-s.web.id/2011/07/jenis-jenis-hambatan-komunikasi-antar.html

http://firdastinruth.staff.uns.ac.id/files/2011/06/teori-teori-komunikasi-antar-budaya.ppt

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s